Ada
yang membuatku surprise saat mendengar cerita saudara sepupuku, pas melayat. “wah masa mau pemilu aku stress, pusing” Kenapa? tanyaku “aku melakukan hal yang aku tidak suka dan tidak disukai suamiku. Aku harus ikut aktiv bantu kampanye” Lho… terus kenapa kamu ikut ? Yaa pada intinya dia
Menulis apa saja yang kamu fikirkan, kamu lihat, kamu dengar, dari sekitarmu. Ambil pelajaran dan hikmahnya.
Tampilkan postingan dengan label Renungan Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 April 2014
Sabtu, 05 April 2014
Tidak Ada Fanatisme itu
Sekali lagi partai bukan agama. Maka jika ada rasa fanatisme partai yang kemudian mengabaikan hal-hal yang pokok dalam urusan agama jelas itu salah, sudah berlebihan. Rasa patuh yang berlebihan, pembelaan yang berlebihan, mengabaikan kewajiban-kewajiban dalam agama jelas itu tidak benar. Apakah itu hal-hal yang terkait dengan masalah adab, ukhuwah, muamallah apalagi sampai ibadah. Bagaimana ornag mengajak ke partai, bagaimana partai mengajak massa mendukung calegnya, bagaimana partai mengelola kader dan simpatisannya, jika semua dengan cara yang mengabaikan urusan agama yaa sudah, artinya memang partai itu memisahkan agama dan caraq berpolitiknya. Tidak heran bagaimana saat kampanye di jalan, bagaimana saat orasi masih dengan hujatan dan celaan, bagaimana saat menawarkan program dengan janji-janji palsu, bahkan pembohongan di awal yang tidak diketahui massanya sangat boleh jadi mereka lakukan. Bagaimana mereka menarik massa dengan iming-iming uang, dan barang?? Kemudian masyarakatpun memilih sekedar dengan pertimbangan apa yang di depan mata, sesuai kebutuhan sesaat saja. Yaa sudah, nasib sebuah bangsa sudah bisa ditebak dari awal. Tidak ada yang berubah, pemainnya saja yang sedikit ganti formasi.
Selasa, 17 Desember 2013
Suatu ketika di bus kota
Setelah berkenalan dan menyapa dengan mbak-mbak di sampingku, tiba-tiba dia bertanya “mbaknya ini dari partai *** ya ?” Bukan kujawab, tapi tanyaku balik “kenapa mbak?” katanya dia menebak saja. Aneh, jawabku “mbak apakah karena jilbab lebar pasti mesti orang partai…. ?” Wahhh baru kenalan, sudah mencari perbedaan gumamku dalam hati.
Bagaimana dengan pertanyaan ini : Islam itu ada berapa? Aneh dengan pertanyaan ini! Aneh bagi kita yang muslim. Tapi bagi mereka yang baru mengenal Islam, jangan merasa aneh dulu. Dulu pernah ada cerita, orang Jepang atau mana yang bertanya, “jika saya mau masuk Islam saya masuk Islam yang mana?”
Lho, maksudnya? Ternyata dia setelah berkenalan dengan Islam yang dia temukan justeru referensi yang menampilkan perbedaan-perbedaan mahzab, sehingga dia bertanya demikian. Andai dia di Indonesia akan lebih banyak dihadapkan pada banyak pilihan mungkin yaa? Jika referensinya kebetulan yang pendekatan ormas, dia bertanya Islam Muhammadiyah atau NU? Jika pendekatannya harokiyah, dia mungkin akan bertanya untuk pilihan yang lebih banyak lagi. Bahkan kalau dia berkenalan dengan referensi politik, wah…bisa berabe, semakin bingung karena parpol Islam banyak sekali. Dan tidak tahu apakah akhirnya dia akan menemukan Islam itu sendiri atau tidak.
Kita sering menemukan bahkan mengalami bagaimana kita juga dengan mudah diidentifikasi sebagai Islam A, B, C, dst atau bahkan kita juga mengidentifikasi saudara-saudara kita dengan Islam A, B, C, dst… kemudian yang terpampang adalah anda adalah berbeda dengan saya.
Karena
yang kita lihat penampilannya, ahh kamu jilbaber lebar pasti ….
Ahh kamu berjenggot, celana jinggrang pasti . . . .Ahh kamu suka warna gelap-gelap auahlap, kamu pasti . . .
Ahh kamu hobi banget sholawatan kamu pasti . . . dsb, dsb
Ada
yang unik, saat mengajar matematika saja pada benda yang berbeda soalnya yang ditanyakan malah diminta mencari persamaannya.
Nah apa yang anda temukan berapa perbedaan and berapa persamaan? Tentukan dulu persamaannya bisakan?
Nah...mudah memang mengidentifikasi perbedaan bangunA, B, C, D, dst. Tapi, jawaban menjadi agak sulit ketika menjawab apa persamaannya. Dan anak-anak di kelas, dengan sekilas melihat mereka mengatakan apa yaa persamaannya. Tapi setelah mereka mau mencermati, baru mereka menemukan persamaannya.
Bersyukur bagi mereka yang berkenalan dengan Islam saja. Islam sebagai dien, way of life, sebagai jawaban atas semua persoalan karena mereka mereferensi pada kebenaran dan keindahan ajaran Islam itu sendiri. Mereka menemukan Islam sebagai jawaban atas kegalauan keyakinan sebagaimana Ibrahim menemukan jawaban jalan tauhid atas kesesatan orang-orang di sekelilingnya.
Mereka menemukan indahnya Islam sebagaimana Umar yang menyaksikan keteguhan kaum muslim dan saudara-saudaranya dalam mempertahankan keyakinan mereka. Mereka tidak bergeming atas cacian, siksaan, dan keterasingan mereka.
Mereka menemukan kebenaran sekaligus keindahan Islam sebagaimana para sahabat tertegun dan terpesona akan mukjizat kalam Al Quran. Mereka menduga-duga memang..ahh ini ciptaan tukang syair, atau tukang sihir karena telah mempengaruhi orang yang mendengarnya. Namun . . ., hati mereka menyangkalnya sendiri. Dan Al Quran pun memberikan jawabannya sekaligus…wama huwa biqouli sya’ir qolilamma tu’minun? Wa la biqouli kahin qolilammatadzakkaruun?
Atau
rasa penasaran yang tinggi, sebagaimana Salman Al Farisi hingga perjalanan? Atau sebagaimana santun dan rendah hatinya seorang kaum dari Niniveh saat dia menjadi budak di Thaif? Ketika dia serta merta menyatakan keislamannya setelah mendengar Rasul membaca basmallah sebelum memakan buah anggur yang dia berikan? Kalimat apakah itu? Aku belum pernah mendengarnya?
Dengan akhlaknya yang luhur Rasulullah memperkenalkan diri, dan terbukalah pintu hidayah bagi lawan bicaranya. Subhannallah…2b continue
Senin, 09 Desember 2013
Catatan Akhir Tahun
Sekedar Merenungkan Kembali
Merasa kehilangan itu selalu berat. Perpisahan itu sering menyedihkan. Tapi, begitulah warna kehidupan. Selalu belajar mengikhlaskan. Tahun ini, banyak pelajaran pada peristiwa dan moment yang membutuhkan kelapangan hati dan perasaan. Apakah itu terkait kerja bersama ataupun pekerjaan rumah. 2013/2014 secara kompak team solidku yang 3 tahun bersama difusikan ke beberapa kelas.
Sekarang beradaptasi dengan team yang baru dan amanah baru itu pasti. Kelas bawah atau kelas atas tidak menjadi soal. Selama 3 tahun berjalan, alhamdulillah aku bersama teman-teman cukup bisa mensolidkan kerja bersama. Sama-sama menjadi pembelajar, langsung terjun bebas menggali pengalaman. Sharing dan keluh kesah spontan bisa diungkapkan. Menyenangkan, meski aku bukan seorang pimpinan tapi dipaksa belajar kepemimpinan.
Belajar memetakan kemampuan untuk mencapai
target dan tujuan. Tidak dicapai secara individu tetapi kerja bersama. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan. Maka dalam kerja bersama akan ada pembagian peran untuk bisa saling melengkapi.
Membangun komunikasi dan koordinasi sesama relasi itu menjadi kunci sukses bersama. Kemudian komunikasi dan koordinasi ke atas juga penting dilakukan agar tahu evaluasi yang perlu dilakukan. Memimpin pemimpin itu lebih sulit, tapi ternyata abaikan saja subordinasi tapi ubahlah menjadi harmonisasi. Dengan orang yang berbeda, latar belakang berbeda, cara pandang yang berbeda akhirnya harus belajar bagaimana mengharmonisasi kerja. Apalagi jika sebenarnya kita masih yunior.
Hal yang membuatku bertanya untuk diriku sendiri sekarang adalah, satu persatu kenapa dari teman sahabatku mulai tinggal gelanggang? Semua adalah pilihan, demikian sebuah jawaban diberikan. Aku turut membenarkan, aku saja yang selalu bertahan. Beberapa teman selalu menyampaikan aku masih punya kesempatan untuk ini itu, aku mampu banyak hal, di sana ada banyak peluang, dsb.
Tahun depan boleh jadi akupun berubah pikiran, menyusul mereka yang didepan. Ahh semua rahasia Ilahi…kita hanya mampu berikhtiar Tuhan jua yang menentukan. Doa dan harapan yang tak boleh hilang dari genggaman. Demikian, hibur salah seorang kawan.
Yaa karena hari esok masih terbentang, jangan terpaku pada di sini dan sekarang. Optimislah! Ganbatte !
Langganan:
Postingan (Atom)
