Kamis, 11 Desember 2014

Mencari Sebuah Jawaban

"Tolong saya diberi nasehat mbak. kenapa saya semakin akhir-akhir ini sering merasa frustasi. Apakah karena saya kurang bersyukur? " sebuah pertanyaan lewat sebuah pesan pendek.
"Ini ada apa je, bukankah kemarin habis mendapat kesempatan sharing dengan pihak atasan? tentu, dah banyak pesan untuk njenengan." jawaban diberikan jelas tidak menjawab pertanyaan.
"Iya, tapi kemarin saya tidak mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan apa yang mengganjal dan menjadi aspirasi saya. justeru saya hanya mendapat banyak cerita dan dituntut untuk lebih banyak mengerti." balasan dalam sebuah ketidakpuasan.
"sebenarnya jawaban sudah njenengan miliki, di pertanyaan awal. ya dari situ akan berkurang kesumpekan itu." karena tidak bisa berpanjang lebar akhirnya sekedar saran yang diberikan, "lalu apa yang menjadi fokus njenengan saat ini? ikutilah dengan ikhtiar + doa. jika kita merasa lemah di wilayah kemanusiaan kita, maka serahkan dalam wilayah Ilahiah yang menyelesaikan, semoga keinginan itu terwujud."
"Iya,...ikhtiar itu rasanya sudah dilakukan dan kandas begitu saja." tanggapan diberikan
"Lalu apa yang njen inginkan saat ini? jika masih yakin dalam tugas amanah saat ini,maka lanjutkan! Jika ada keyakinan ada seseorang serius untuk tujuan baik denganmu, maka seriuslah !" akhir dari sebuah saran yang tidak ingin dibantah lagi, karena aku sedikit menganalisa masalahnya.

Sebuah jawaban 
Meskipun engkau membantah, ingin kau menembus lorong waktu untuk kembali memutar waktu dan peristiwa, engkau ingin menghapus semuanya, sekarang yang ada adalah apa yang ada di depan mata. hari ini dan esok hari. Jika kekecewaan untuk semua keinginanmu yang sungguh-sungguh telah membawa pada ketidakpastian, atau karena ia telah memilih jalannya sendiri maka saat ini engkau mestinya melihat kepastian dirimu sendiri, dan pilihlah jalanmu pula.

Sebuah jawaban dan saran yang sebenarnya kembali pada diriku sendiri, bukan aku menasehatimu sungguh akulah yang butuh nasehat saudariku. aku ingat sebuah ungkapan, wong kuwi isone mung wang sinawang. awake dhewe kadang dianggep ora duwe masalah tp nyatane duwe masalah, wong liyo kadang katon luweh mapan uripe nyatane urung mesthi tentrem athine. matur suwun atas semua pesan yg masuk hari ini, kalian dengan senang hati berbagi. 

Senin, 17 November 2014

Deras hujan di waktu ashar

Di rakaat awal kami melaksanakan sholat ashar, kemudian bress hujan deras tertumpah tidak tertahan. Sebelumnya, tanda-tanda awan gelap yang menggulung dari arah utara, suhu yang sangat gerah sejak siang seolah memberi kabar agar bersiap jika hujan deras datang.

Selepas sholat, di halaman depan kendaraan bermotor sudah banyak berjajar jumlah roda empat tidak sebanyak hari biasa, kali ini berjajar panjang. Anak-anak bersalaman dalam antrian panjang masih enggan untuk meninggalkan ruangan masjid yang jauh lebih aman dari suasana di luar yang begitu deras dan terlihat menakutkan. Basah kuyup tentu, karena tak ada lorong atau selasar yang menghubungkan masjid menuju ruang kelas mereka, payung juga tidak ada. Kumelihat di luar aliran air cukup deras menggerus halaman depan yang memang miring sejajar sungai.

Aku melihat dan mencegah beberapa untuk tetap tinggal dulu sambil menunggu reda. Namun, kondisi seperti itu durasi waktu reda tentu tak cukup 15 menit saja. Aku melihat keluar.... tak sebanyak saat terang, tentu ortu juga berpikir untuk menunggu sedikit reda. Kasihan anak-anak, selepas seharian belajar pulang kehujanan, rumah yang belum tentu dekat banyak yang jauh memang. Aku jadi sedih ingat ponakan,... mbakku pasti repot dalam penjemputan. Tapi, sekarang jarang dititipkan untuk kujemputkan. Tahu aku sering terlalu sore pulang, meski selepas ashar jam sudah usai kbm. 

Ahh aku juga bergegas setelah tinggal beberapa saja yang menunggu di masjid, aku menuju ruang kantor, berkemas, lalu bersama seorang teman berempati pulang saat hujan masih cukup deras. Jalanan cukup gelap untuk pandanganku, aku berusaha hati-hati mengurangi kecepatan jauh dibawah rata-rata aku melaju. Cukup padat jalan bersamaan semua orang pulang di waktu sore, bermobilan aku berusaha menyelinap dan bisa terus ke depan lalu hijau...!

Sampai di rumah ku disambut bapak yang sedang mengaji sendirian. Rupanya masku dan anak-anak masih di tempat kerja para tukang. Pekerjaan, tentu tak seperti ketika hari terang. Yaa semua sudah datang musimnya bapak... semoga esok terus lancar semua pekerjaan. 
Kubayangkan di sana saudara-saudaraku yang lain yang pekerjaan di luar, di lapangan ketika musim berganti sering membutuhkan kesabaran tinggi. Kendala musim yang kadang membuat pekerjaan menjadi lebih berat dan lebih membutuhkan energi, kondisi fisik tentu mesti dijaga.

Yaa Allah semoga hujan ini selalu membawa berkah dan manfaat, meski terkadang manusia penuh 'sambat'.

#17 Muharam 1436 H